Nama : Singgih Pratiknyo Sundawa

NIM    : B04100142

Laskar : 9

CERITA INSPIRASI

“INSPIRASIKU”

Berikut ini akan saya lampirkan cerita tentang teman saya yang ceritanya mungkin akan memotivasi dan menginspirasi sesuatu bagi siapa saja yamg membaca ataupun mendengarkan cerita dari teman saya ini. Sebelumnya, nama  saya adalah Singgih Pratiknyo Sundawa, saya berasal dari Cilacap, sebuah kota kecil di Jawa Tengah, dan tepatnya berada disebelah selatan Jawa Tengah dan kota kecil ini juga merupakan perbatasan antara Jawa Tengah dengan Jawa Barat. Saya merupakan anak pertama dari dua bersaudara. Saya masuk ke IPB ini mengambil Fakultas Kedokteran Hewan.

Cerita ini mengenai orang yang menjadi inspirasi saya. Dia bernama Supri, anak dari paman saya. Dia juga merupakan alumnus IPB Fakultas Kedokteran Hewan, sama seperti saya. Dia lahir dari keluarga yang berlatar belakang petani yang sangat bergantung pada sawahnya.

Dia merupakan sosok orang yang rajin dan pintar. Sejak dia SD sampai SMA dia selalu berprestasi di sekolahnya, dia selalu masuk 3 besar dikelasnya. Saya kagu dengan semangat belajarnya. Dia tak jarang di ejek oleh teman-temannya karena seragamnya yang sudah kusam dan sepeda ontelnya yang sudah tua., hingga sering dikempesin oleh teman-temannya. Sempat dia minder dalam pergaulan karena hal itu, tetapi tidak pada prestasi akademiknya, dia palah semakin berprestasi.

Sejak kecil dia sudah diajari bertani dan sering dia ke sawah untuk membantu orang tuanya menggarap sawah. Karena hanya dengan sawah mereka dapat hidup. Selain dia rajin membantu orang tuanya di sawah, dia juga memiliki kesenangan memelihara hewan, mulai dari merpati, kelinci sampai kambing. Karena kecintaannya pada hewan itulah yang membuat dia ingin lebih mempelajari tentang hewan. Bagaimana perilakunya, penyakit hewan dan cara penyembuhannya. Sehingga saat dia tahu ada seleksi masuk IPB di sekolahnya dia mengambil jurusan Kedokteran Hewan. Dan ternyata dia diterima menjadi mahasiswa sesuai dengan keinginannya.

Saat dia sudah menjadi mahasiswa di IPB, dia yang dulunya mudah minder dan pendiam menjadi orang yang luwes, kreatif dan aktif. Dia juga menjadi ketua OmDa daerahnya pada saat itu. Selain itu dia juga aktif dalam suatu partai besar, karena keaktifannya dia dipercaya menjadi koordinator salah satu wilayah. Sebagai hadiahnya dia disediakan tempat tinggal berupa kos untuk dia tinggal tanpa harus membayarnya. Namun dia tidak menempati tempat itu. Dia lebih memilih tinggal di pondok pesantren di dekat kampus. Disana dia juga tinggal gratis, karena dia mau menjadi marbot di masjid pondok pesantren tersebut. Bukan hanya gratis tinggal disana tetapi dia juga di gaji atas kerjanya sebagai marbot masjid tersebut. Dan tempat kos yang diberi oleh partai dia sewakan kepada mahasiswa yang membutuhkan, sehingga dia memperoleh bayaran. Uang bayaran itu dia gunakan untuk biaya hidup sehari-hari di Bogor. Selain itu dia juga aktif di bidang agama, dia sering diminta menjadi khotib dalam suatu acara dan tak sedikit dia mendapatkan pesangon.

Yang membuat saya kagum adalah dia tidak pernah meminta biaya makan kepada orang tuanya, dia hanya meminta uang untuk biaya kuliah saja sampai dia lulus dan menjadi seorang Dokter Hewan. Sebelum dia lulus sudah ditawari untuk bekerja di Riau dengan gaji yang cukup besar. Dan dia menerimanya, hingga sekarang dia masih bekerja di Riau. Sampai sekarang dia telah menjadi PNS disana.

Banyak hal yang dapat saya teladani darinya, mungkin juga bagi semuanya yang membaca dapat menjadikan motivasi bagi kita. Kalau dia bisa, kenapa kita tidak. Saya akan mencobadan berusaha mengikuti jejaknya dan membuat orang tua bangga.

“PENGALAMAN ADALAH GURU TERBAIK”

Disini saya akan kembali menceritakan sebuah cerita, namun kali ini saya tidak menceritakan orang lain, tetapi disini saya akan menceritakan tentang diri saya sendiri. Cerita saya ini mengenai sebuah pengalaman yang yang menjadi guru bagi saya.

Cerita ini merupakan pengalaman pribadi saya sendiri dimdna sayapada saat itu mulai bisa berpikir untuk lebih serius dalam belajar. Sya merupakan anak yang mudah terpengaruh oleh hal baru. Dan bisa saja sampai sampai begitu hanyut didalamnya dan menjadi lalai pada kewajiban. Hal baru itu yang akan saya ceritakan adalah HandPhoneone.

HandPhone pertama saya dibelikan saat kelas 10 SMA. Saya dibelikan HandPhone karena ibu saya merasa kasihan pada saya, karena mungkin hanya saya, anak muda di daerah saya yang belum mempunyai HP sendiri, jadi akhirnya saya dibelikan. Namun karena suatu hal HP saya rusak dan harus diperbaiki di onter aslinya. Dan baru jadi saat saya kelas 11 SMA.

Saat HP saya jadi saya begitu senang dan tak henti-hentinya saya bermain HP dirumah, bahkan disekolah, yang sebenarnya tidak diperbolehkan untuk membawa HP. Begitu senangnya  saya bahkan melalaikan kewajiban sebagain seorang pelajar yaitu belajar. Sebelum saya mempunyai HP prestasi akademik saya cukup memuaskan, masuk 3 besar kelas. Sampai kelas 11 SMA saya mulai diperbudak oleh HP, dan hasilnya saat UTS nilai saya hancur. Saya sempat dimarahi orang tua karena hasil UTS yang tidak memuaskan. Tetapi saya tidak begitu memperdulikannya. Sampai akhirnya waktu kenaikan kelas 12 SMA nilai saya semakin turun, bahkan tidak bisa masuk dalam 3 besar kelas. Pada saat itu saya mulai berpikirapa sebenarnya yang menyebabkan hal itu terjadi, dan akhirnya saya menyadari penyebabnya adalah ulah saya sendiri, terlalu mementingkan bermain HP daripada belajar. Terlalu seringnya saya bermain HP hingga berakibat fatal pada nilai saya. Saat itu saya mulai membandingkan nilai saya saat sebelum pegang HP dan setelah pegang HP sangat berbeda. Dan yang paling membuat saya menyesal adlah saat ada USMI dari IPB. Saya merata-rata nilai saya hanya cukup saja, pada saat itu saya agak psimis.

Dari kejadian itu saya mulai menyadari bahwa pribadi saya lemah. Dan dengan kejadian itu menjadin acuan bagi saya untuk benar-benar fokus belajar.